Temulawak dan kunyit berkhasiat dalam melawan COVID- 19? Benarkah?
Temulawak dan kunyit berkhasiat dalam melawan COVID- 19? Benarkah?
Kurkumin ialah senyawa metabolit bahan alam yang bisa diisolasi dari tumbuhan kunyit
ataupun tumeric( Curcuma longa L).. Sudah dilaporkan bermacam potensi terapeutik kurkumin dan
kurkuminoid( kurkumin dan turunannya) antara lain sebagai antibiotik, antiviral, antioksidan,
antikanker, dan untuk penindakan penyakit Alzheimer. Kurkumin dan turunannya ataupun yang
secara umum diketahui sebagai kurkuminoid juga terdapat pada temulawak, jahe dan tanaman
sejenis.
Riset tentang kurkumin yang terkait efek farmakologi di atas sangat banyak, tetapi ada
beberapa publikasi yang menampilkan kesimpulan kontradiksi. Salah satu yang jadi perhatian
adalah apakah kurkumin dapat menolong pengobatan COVID- 19?
Dikenal bahwa semenjak epidemi SARS tahun 2003, reseptor SARS- CoV- 2 adalah angiotensin-
converting enzyme 2( ACE2). Dikenal pula kalau ada ACE2 bisa terletak dalam bentuk fixed
( melekat di sel) dan ada pula yang soluble( tidak melekat pada sel) ataupun soluble ACE2.
Riset terhadap senyawa kurkumin( sebagai senyawa tunggal ataupun murni) dilaporkan
meningkatkan ACE2 pada hewan uji tikus, tetapi belum ada riset hubangan langsung dengan
peradangan virus corona. Untuk keperluan pengobatan dengan kurkumin pasti diharapkan banyak ACE2
yang bebas( soluble) sehingga akan menghindari virus corona melekat pada sel, yang secara
langsung akan menghindari terbentuknya peradangan. Khasiat kurkumin terhadap pengobatan COVID-
19 pasti masih membutuhkan pembuktian lewat riset lanjutan.
Tumbuhan kunyit, temulawak, jahe selain kurkuminoid juga memiliki puluhan senyawa kimia
yang lain. Tumbuhan tersebut telah biasa digunakan oleh publik dalam kehidupan sehari- hari,
dan aman dalam penggunaanya.
Tidak hanya sebagai bumbu masak, tumbuhan tersebut juga menjadi
bahan baku jamu, dan obat herbal terstandarkan. Secara empiris, kandungan( multi) senyawa
kimia dari tumbuhan tersebut juga dinyatakan berguna sebagai imunomodulator untuk menjaga
energi tahan tubuh.
Efek farmakologi gabungan senyawa kimia( multi compound) dalan tanaman
tersebut pasti dapat berbeda dengan efek farmakologi kurkumin secara tunggal( single compound).
Dalam kaitannya dengan COVID- 19, pemakaian tanaman tersebut baik secara tunggal maupun
gabungannya dapat membantu dalam meningkatkan energi tahan tubuh sebagai imunomodulator.
Oleh karena itu pemanfaatan kunyit, temu lawak ataupun jahe sebagai jamu, obat herbal
terstandarkan, ataupun suplemen sebagai minuman adalah aman.
Pengembangan tanaman- tanaman tersebut jadi fitofarmaka sebagai antivirus terhadap
COVID- 19 pastinya perlu kerja keras dari peneliti, industri farmasi dan pemerintah Indonesia.
Komentar
Posting Komentar